Oleh: Arham La Kudu (Mahasiswa UNKHAIR)
TALIABU – Di tengah derasnya arus pembangunan yang terus digaungkan pemerintah, masyarakat Desa Nggele justru masih hidup dalam kecemasan yang sama setiap kali musim hujan tiba. Hujan yang seharusnya menjadi berkah bagi kehidupan, berubah menjadi ancaman yang menghantui rumah-rumah warga, merusak infrastruktur, menggenangi permukiman, dan menghambat aktivitas masyarakat.
Ironisnya, persoalan ini bukan terjadi sekali atau dua kali. Banjir telah menjadi masalah yang berulang dari tahun ke tahun tanpa adanya penyelesaian yang benar-benar serius dari Pemerintah Desa Nggele maupun Pemerintah Kecamatan Taliabu Barat Laut.
Hingga hari ini, masyarakat seolah hanya disuguhi janji, wacana, dan sikap saling melempar tanggung jawab. Pemerintah hadir ketika persoalan mulai viral atau ketika suara masyarakat terdengar semakin keras. Namun setelah itu, semuanya kembali sunyi. Tidak ada langkah konkret yang mampu menjawab keresahan warga secara menyeluruh. Drainase masih buruk, saluran air belum ditangani secara maksimal, dan upaya penanggulangan banjir terlihat seperti pekerjaan setengah hati. Seakan-akan penderitaan masyarakat hanyalah persoalan biasa yang tidak perlu segera diselesaikan.
Sebagai bagian dari masyarakat, saya merasa kecewa melihat lambannya respons pemerintah dalam memahami dan menyelesaikan persoalan yang dihadapi rakyatnya sendiri. Setiap musim hujan datang, masyarakat Desa Nggele dipaksa hidup dalam rasa khawatir. Anak-anak kesulitan beraktivitas, akses jalan terganggu, warga harus menyelamatkan barang-barang mereka, bahkan sebagian mengalami kerugian akibat rumah yang tergenang air.
Di sisi lain, pemerintah masih sibuk berbicara tentang program dan pembangunan tanpa benar-benar menyentuh akar persoalan yang dirasakan masyarakat setiap hari. Pembangunan seharusnya tidak hanya diukur dari banyaknya program yang diumumkan, tetapi juga dari sejauh mana pemerintah mampu menyelesaikan masalah mendasar yang dihadapi rakyat.
Yang lebih menyakitkan, suara masyarakat sering kali dianggap sebagai keluhan biasa. Padahal kritik yang disampaikan bukan lahir dari kebencian, melainkan dari kekecewaan yang telah lama dipendam. Rakyat tidak menuntut sesuatu yang mewah. Mereka hanya ingin hidup dengan aman, tanpa dihantui banjir setiap kali hujan turun. Mereka ingin pemerintah hadir bukan sekadar sebagai simbol kekuasaan, melainkan sebagai pelayan masyarakat yang bekerja dan bertanggung jawab.
Pemerintah Desa Nggele dan Pemerintah Kecamatan Taliabu Barat Laut seharusnya menyadari bahwa jabatan bukan hanya tentang menghadiri kegiatan seremonial, berdiri di atas podium, atau menyampaikan pidato pembangunan. Jabatan adalah amanah untuk memastikan masyarakat hidup dengan layak, aman, dan terlindungi dari persoalan yang terus berulang.
Ketika banjir masih menjadi masalah tahunan tanpa solusi yang jelas, maka masyarakat memiliki hak untuk mempertanyakan keseriusan pemerintah dalam menjalankan tanggung jawabnya. Sebab pemerintah yang hadir di tengah rakyat seharusnya mampu memberikan solusi, bukan sekadar janji.
Hari ini, masyarakat tidak membutuhkan pidato panjang tentang kepedulian. Yang dibutuhkan adalah tindakan nyata. Banjir tidak akan selesai hanya dengan rapat, dokumentasi, atau janji yang terus diulang setiap tahun. Persoalan ini membutuhkan keberanian pemerintah untuk turun langsung melihat kondisi warga, mendengar suara masyarakat tanpa menutup telinga, dan bekerja secara serius mencari solusi jangka panjang yang mampu menyelamatkan Desa Nggele dari ancaman banjir yang terus menghantui kehidupan mereka.
Saya percaya bahwa kritik adalah bentuk cinta terhadap daerah sendiri. Karena jika masyarakat memilih diam, maka penderitaan ini akan terus dianggap sebagai sesuatu yang normal. Kritik ini merupakan suara keresahan warga yang selama ini hidup dalam ketidakpastian setiap kali musim hujan datang.
Tidak seharusnya rakyat terus menjadi korban dari lambannya kerja pemerintah. Tidak seharusnya masyarakat dipaksa bertahan dalam situasi yang sama tanpa perubahan yang berarti.
Dan apabila hingga hari ini pemerintah masih belum mampu menyelesaikan persoalan banjir di Desa Nggele, maka masyarakat berhak bertanya: sebenarnya pemerintah hadir untuk siapa? Untuk rakyat, atau hanya untuk menjaga citra kekuasaan semata?
Karena pada akhirnya, pemerintah yang baik bukanlah pemerintah yang pandai berbicara, melainkan pemerintah yang mampu menghadirkan solusi dan menyelesaikan penderitaan rakyatnya.



