TALIABU – Panitia Penyelenggara kegiatan Hardiknas 2026, Mushawwir, menepis isu adanya pungutan liar yang dibebankan kepada kepala sekolah dalam pelaksanaan kegiatan tersebut. Ia menegaskan bahwa seluruh rangkaian kegiatan dilaksanakan berbasis kolaborasi antar satuan pendidikan, bukan pungutan.

Menurut Mushawwir, kegiatan ini justru menjadi upaya untuk memenuhi hak anak-anak di Kabupaten Pulau Taliabu agar dapat berkembang dan menunjukkan potensi mereka, sejajar dengan daerah lain.

“Intinya, bagaimana kita bisa memenuhi hak anak-anak di Taliabu agar bisa setara dengan daerah lain. Kegiatan ini merupakan bagian dari keinginan mereka untuk menunjukkan talenta dalam berbagai kompetisi,” ujarnya.

Ia juga mengajak media untuk turut mempublikasikan kegiatan tersebut agar diketahui lebih luas oleh daerah lain. Dengan demikian, kata dia, Taliabu dapat menunjukkan bahwa daerah ini juga mampu menyelenggarakan kegiatan pendidikan dan pengembangan bakat yang berkualitas.

“Kalau teman-teman media bisa membantu mengekspos kegiatan ini, maka ke depan tidak menutup kemungkinan kami akan membuat kegiatan yang lebih besar lagi,” tambahnya.

Lebih lanjut, Mushawwir menegaskan bahwa panitia tidak pernah meminta partisipasi dalam bentuk pungutan kepada sekolah. Seluruh pembiayaan kegiatan bersumber dari anggaran masing-masing satuan pendidikan yang telah dialokasikan melalui ARKAS.

“Ini bukan pungutan liar. Ini kolaborasi dari anggaran yang sudah ada di masing-masing sekolah dan telah direncanakan dalam ARKAS. Justru selama ini kita tidak tahu secara jelas output dari kegiatan yang dianggarkan, sehingga sekarang dibuat secara bersama agar lebih terarah dan terlihat hasilnya,” jelasnya.

Melalui kolaborasi tersebut, setiap sekolah dapat berkontribusi dalam satu wadah kegiatan yang memungkinkan siswa menunjukkan kemampuan mereka sekaligus berkompetisi secara sehat.

Selain menjadi ajang unjuk bakat, kegiatan ini juga membuka ruang interaksi antar siswa dari berbagai wilayah di Taliabu yang selama ini terbatas oleh kondisi geografis.

“Mereka bisa saling mengenal, anak-anak dari selatan bisa bertemu dengan yang di utara. Ini menjadi nilai positif bagi mereka di tengah keterbatasan akses yang ada,” tutupnya.

Mawan Mawan
Editor
Mawan Mawan
Reporter